renungan di tengah tahun

2017 telah memberikan banyak pelajaran berharga, bagi diri saya pribadi.
Mengalami pengkhianatan, patah hati, bahkan hal-hal lainnya yang membuat saya benar-benar terpuruk selama beberapa waktu.
Bertemu dengan banyak orang-orang baru, berkenalan dengan mereka, berkawan dan berinteraksi dengan semuanya.
Tanpa tahu mana orang yang baik dan mana yang tidak baik.
Tidak, itu salah. Sejatinya tidak ada orang yang tidak baik.
Semua orang yang datang dalam hidup kita, adalah orang-orang baik.
Di dunia ini, hanya ada orang yang baik dan lebih baik.
Mereka datang dan memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita.
Mungkin mereka memang datang silih berganti, hanya beberapa yang akan tetap tinggal.
Kita tidak bisa mencegahnya, memang begitu fasenya.
Kita pun juga tidak bisa mengetahui niat seseorang terhadap kita.
Ada yang ingin menjadi teman kita dengan mengajak berkenalan, mengapa tidak?
Kita hanya bisa menyambutnya dengan keramahan tanpa berfikir buruk terhadapnya.
Mereka sangat senang berinteraksi di awal karena melihat sisi baik kita saja. Menggebu-gebu ingin tetap dekat dan semakin dekat. Namun begitu mengetahui sisi buruk kita, ditinggalkan begitu saja dengan perpisahan yang kurang baik di akhir. Ada yang seperti itu, banyak.
Bahkan tanpa saya sadari juga, mungkin saya juga kerap kali berlaku seperti itu kepada orang lain. So sad.
Tapi tidak semuanya begitu.
Ada pula yang memang baik di awal karena kita baik terhadap mereka, dan tetap ada dalam inner circle kita, tetap membalas kebaikan itu, walaupun mereka mengetahui betapa buruknya diri ini. Mereka terus ada untuk kita, membantu kita berubah ke arah yang lebih baik secara perlahan.
Hingga akhirnya sampailah pada sebuah konklusi, entah mereka akan meninggalkan atau tetap tinggal untuk kita, mereka pasti memberikan sebuah pelajaran berharga dalam hidup kita.
Memang begitu jalan ceritanya. Melalui kehadiran mereka, Tuhan mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan. Bahkan bisa jadi, tanpa kehadiran mereka di masa lalu, kita tidak akan menjadi diri yang seperti saat ini. Sudah begini takdirnya. Kita hanya bisa menerima dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Di sisi lain, tanpa kita sadari pula, seiring bertambahnya usia, lingkungan kita pun mulai berubah drastis.
Teman yang dulunya selalu ada untuk kita, rutin menyapa, lambat laun mulai menghilang ditelan tuntutan kesibukan masing-masing.
Meminta waktu satu jam untuk bertemu bersama saja harus menunggu beberapa bulan untuk saling menyamakan waktu kosong.
Pada akhirnya, kita memang berjalan sendiri-sendiri, dan saat ini kita mulai fokus membangun masa depan kita sendiri. Kehidupan yang kita jalani ini, mulai mengerucut pada hal-hal tertentu saja.
Memang seperti itu fasenya, kita tidak dapat memungkirinya.
Yang dapat kita lakukan adalah, bersikap dewasa dalam merespon perubahan besar ini.
Tidak perlu rewel bahkan sampai bertengkar hanya karena pikiran jelek, "sok sibuk banget sih. lupa sama temen sekarang."
Jangan. Seharusnya kita bisa memahami itu dengan cara yang lebih baik, dengan pikiran yang lebih positif. Kita hanya perlu tetap mendukung segala kegiatan positif mereka, dan mendoakan yang terbaik untuk kesuksesan mereka semua. Yang penting, kita berusaha untuk selalu ada di tiap mereka membutuhkan bantuan kita.
Mari kita bercermin, tanya pada diri masing-masing.
Sudahkah diri kita siap menghadapi masa depan?
Sudah pantaskah sikap kita sekarang dalam merespon apapun secara bijak?
Apakah pikiran kita sudah cukup dewasa?
Umur sudah kepala 2. Mau menunggu apa lagi untuk memulai merubah dan memperbaiki diri?
Jadikan kegagalan kita di masa lalu, menjadi pelajaran di kemudian hari sebagai pegangan hidup kita.
Jika dulu kita pernah bertemu dengan orang-orang yang 'salah', tidak seharusnya kita terus membenci dan memakinya. Seharusnya kita berterimakasih sebesar-besarnya kepada mereka, karena mereka telah memberikan banyak pelajaran baik kepada kita.
Jadi, jangan lelah untuk berbenah diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi ;)


"Semakin dewasa akan semakin terlihat mana yang masih selaras dan tetap tinggal untuk kita. Sudah fasenya seperti ini jika mereka satu persatu akan pergi, mulai berubah dan tidak lagi sejalur seperti dahulu karena kini tiap orang mulai menuju orientasi kehidupannya masing2. Kita tdk bisa memaksa mereka untuk tetap tinggal. Tiap org memiliki keinginan dan tujuan hidup yg berbeda. Toh akhirnya proses pendewasaan ini akan semakin mengerecut pada seseorang. Hingga akhirnya teman sebenar-benarnya teman adlh seseorang yg akan menjadi teman hidupmu kelak"

ECOBRICK - solusi sederhana mengatasi sampah kantong plastik

Pada tanggal 20 Januari 2018 kemarin, Luluk bersama beberapa teman lainnya mengikuti acara workshop pengolahan sampah yang merupakan salah satu rangkaian acara dari pameran makanan vegan di Grand City Surabaya. Acara ini dihadiri oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, juga komunitas nol sampah sebagai narasumber. Nah, penasaran bukan mengenai apa yang kami dapat dari workshop keren ini? Berikut liputannya




Ecobrick merupakan sebuah modul dari botol plastik yang berisi kantong plastik padat didalamnya. Ecobrick adalah salah satu solusi mengatasi sampah kantong plastik yang menumpuk di rumah. Kita sendiri dapat melakukannya dengan mudah sebab yang dibutuhkan untuk membuatnya hanya bahan-bahan berikut ini.

Botol Plastik
Gunting
Lem
Tusuk Bambu
Sampah Halus (kantong plastik)
Sampah Kasar (Sisa bungkus makanan ringan)

Nah setelah semua bahan telah siap, mari kita mulai langkah pertama dengan menggunting sampah halus sekecil mungkin. Sebab lapisan pertama yang dimasukkan ke dalam botol adalah sampah halus yang nantinya dapat membuat lapisan terbawah menjadi padat. Nah disarankan agar ketika modul ecobrick disatukan dapat terlihat bagus, maka sebaiknya lapisan ini terdiri dari sampah halus yang berwarna sama. Setelah menggunting, masukkan potongan sampah tersebut dengan mendorongnya hingga lapisan terbawah menjadi padat. Tentu saja dengan bantuan tusuk bambu



Setelah lapisan terbawah benar-benar padat, mari kita membuat lapisan berikutnya. Nah kali ini kalian dapat menggunakan sampah kasar. Yaitu sampah-sampah dari bungkus makanan ringan. Sama seperti sebelumnya, sampah plastik ini harus dipotong menjadi bagian kecil-kecil agar dapat masuk ke dalam botol dan memenuhi ruang botol dengan padat. Masukkan potongan tersebut, dorong dengan tusuk bambu hingga lapisan menjadi padat.



Kemudian ulangi langkah sebelumnya. Jadi sebenarnya modul ecobrick ini terdiri atas lapisan sampah halus-kasar-halus-kasar-dan seterusnya. Mudah bukan?



Ketika botol telah penuh sesak dan padat, kini botol siap untuk ditutup. Nah kira-kira tiap modul ecobrick memiliki berat antara 300-500 gram. Dimana jika kita memasukkan sampah bungkus mie instant, dapat menampung 300 bungkus didalamnya hingga botol penuh dan padat.
Nah karena ini adalah sebuah modul, tentu dibutuhkan 'teman-teman' lainnya agar dapat difungsikan menjadi suatu barang jadi. Botol-botol ecobrick ini disatukan dengan menggunakan lem yang kuat. Nah setelah itu dapat digunakan dan dikembangkan menjadi barang dengan fungsi yang macam-macam. Dapat menjadi meja, kursi, bahkan panggung.

sumber :
http://publikjurnalistik.org/wp-content/uploads/2017/04/picsart_04-05-05.46.24.jpg

sumber:
https://pbs.twimg.com/media/C7UznHaVsAAaITy.jpg

Keren, bukan? Solusi praktis, mudah dan sederhana yang dapat kita lakukan di rumah.
Nah, mari kita coba solusi ini di rumah sebagai bentuk partisipasi kita untuk turut menjaga bumi dengan melakukan aksi ini sebagai salah satu wujud dari 3R!
Salam lestari!