aku punya mimpi
banyak yang ingin kugapai
seperti halnya kalian yang juga menulis impian
lalu mulai mewujudkannya satu demi satu
aku pun juga sudah menuliskannya
pun berusaha mewujudkannya
selama ini, begitu.

sayangnya ada dinding penghalang berdiri
sesuatu yang membuatku membatasi diri
langkahku mulai terhenti
sebab dihadapkan pada suatu kondisi
yang bahkan aku pun tidak dapat memilihnya
dilimpahkan begitu saja
seakan-akan memang ini bagian dari tanggung jawabku
dan kalian tidak memikirkannya
terfokus dengan apa mimpi kalian
padahal kalian juga seharusnya ikut andil juga
tidak begitu saja menyerahkannya kepadaku
aku pun punya mimpi
aku pun ingin seperti kalian
seharusnya aku juga berhak memilih jalanku bukan?
aku pun juga berhak menggapai keinginanku kan?

entah apakah perhitunganku meleset atau justru tepat
kenyataan ini akan benar-benar kuhadapi 1-4 tahun lagi
dan itu bukanlah waktu yang lama

hei
minggu lalu aku berbicara dengan seorang abang
tentang passion dan keinginan
"kuliah apapun ngga harus sesuai dengan passion"
tapi aku tidak setuju dengan itu
"toh walaupun kamu merasa ini bukan passionmu,
kamu bisa apa? tetap kuliah dan mengerjakan tugasnya kan?"
ada benarnya sih, tapi apakah hal itu hanya berlaku untuk kuliah?
sedangkan keadaan yang kuhadapi nanti adalah tentang masa depan
langkah besar yang menentukan bagaimana kehidupanku selanjutnya
tidakkah aku boleh memilih?
tidakkah aku berhak untuk menjalankan sesuai dengan passionku?
aku pun berhak seperti kalian kan?
anganku boleh kuwujudkan juga bukan?

melangkah



Ada kalanya kita menghadapi fase terburuk dalam hidup. Hingga tidak ada lagi pilihan selain melewatinya. Mungkin berat rasanya, bahkan sakit dan menyedihkan karena harus bisa bertahan menghadapi itu semua dengan sabar. Tapi sebenarnya fase-fase semacam itu adalah titik mula kebangkitan bagi diri kita.
Tidak berbeda dengan orang-orang pada umumnya, di tahun ini aku pun juga terpaksa harus bertahan melewati fase sedih itu. Gelap dan terang datang silih berganti. Layaknya matahari yang terbenam dan terbit setiap hari. Sangat disayangkan karena hal itu berkaitan dengan persoalan "perasaan - hati - orang lain".
Mungkin hal-hal itu tidak nampak secara fisik, tapi entah mengapa bisa merenggut semangat dan membuat kacau hari-hariku. Sedih, menangis, kecewa, dikhianati, dibohongi, dimanfaatkan, dan sejenisnya. Sepertinya itu sudah jadi makanan pahitku selama beberapa bulan terakhir.
Aku menyadari bahwa aku tidak bisa menyalahkan keadaan, waktu bahkan orang lain. Karena pada dasarnya semua itu juga bermula dari diriku sendiri. Seseorang tidak akan merasa tersakiti jika dia melakukan kebaikan dengan ikhlas. Seseorang tidak akan merasa kecewa jika dia tidak berharap sedikitpun kepada orang lain. Seseorang tidak akan merasa sedih jika dia berhati lapang, tidak mengeluh, dan selalu bersyukur dengan apa yang diberi Allah. Dan sayangnya, sikapku sendiri tidak seperti itu. Sehingga aku merasakan hal pahit di belakang.
Aku pun menyadari bahwa sikap, etika dan pikiranku selama ini kurang baik. Bertindak seolah-olah merasa yang paling benar, paling baik, paling dewasa dan paling dalam hal lainnya. Aku terlalu besar kepala terhadap diri sendiri. Aku tidak pernah berkaca, lupa akan kekurangan diri seolah-olah paling oke dari semuanya. terlalu buruk bukan?
Mengalami hal-hal buruk, jatuh terpuruk, sedih berminggu-minggu, bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Karena itu wajar terjadi dalam kehidupan. Bagiku, itu adalah titik awalku dalam melangkah lebih jauh. Jika sebelumnya aku ingin mencapai sesuatu selangkah di depanku, namun aku gagal menggapainya karena terpuruk dengan hari-hari buruk itu, setelah pekan gelap itu selesai, aku bisa melesat 10 langkah lebih jauh dari targetku. Aku berpikir bahwa, mungkin memang ini adalah rencana terbaik yang ditulisNya. aku perlu berguling-guling dalam hari-hari gelap itu sambil menangis tersedu-sedu supaya aku kembali lagi kepadaNya, mengingatkanku bahwa aku tidak boleh berharap apapun selain kepadaNya serta tidak boleh mencintai makhlukNya melebihi cinta kepada Allah.
Aku sadar bahwa hari-hari buruk itu, adalah hari-hari terbaik dalam kehidupanku. Jatuh tersungkur ke dalam sumur terdalam kehidupan, lalu bangkit berdiri melesat jauh hingga ke awan. Mungkin dulu pikiranku terlalu sempit, berpikir dan melihat hanya dalam satu sudut pandang. Aku mengakuinya. Namun jika sekarang aku melihatnya dari sisi yang lain, dengan pemikiran yang lebih positif, ternyata seluruh rangkaian kejadian menyedihkan itu bukanlah hal buruk yang patut disesali. Aku bersyukur bahwa aku telah/sedang melewati masa-masa kelam itu dengan hati dan pikiran yang masih terbuka. Serta masih ada teman-teman yang setia mengingatkanku dan menasihatiku. Optimis tetap menyertaiku jika aku selalu percaya dengan rencana-rencana terbaik Allah. Aku bersyukur, ternyata hidup ini indah. Hari-hari itu memang kejam, tapi itulah titik awal cerita baik kedepan.
Terakhir, untuk semua orang yang pernah berinteraksi dekat denganku, selama 10 bulan terakhir.
Dari lubuk hati yang terdalam, aku meminta maaf sebesar-besarnya.
Dan terima kasih telah mengisi potongan kisah dalam hidupku, semuanya! :)