Pada dasarnya, prasangka manusia sudah ada sejak dahulu kala
Manusia dengan pemikirannya, mudah menerka-nerka
Memperkirakan sesuatu menurut pandangan yang dilihatnya
Yakin dengan pernyataan terkaan nya tanpa mengumpulkan informasi lainnya
Bisa jadi ia tidak memiliki kesempatan bertanya
Atau tidak ada keberanian untuk mempertanyakannya
Bisa jadi ia tidak melihat sesuatu yang meyakinkan dirinya
Atau telah menangkap sesuatu yang mendukung terkaannya
Mendengar fakta yang bisa jadi itu hanya terkaan orang lain semata
Sehingga ia menganggap sesuatu itu benar adanya
Memperkuat terkaan itu dengan informasi pemberian kedua matanya
Akhirnya keyakinan tentang pemikiran itupun ia anggap nyata
Ditambah dengan kondisi yang menguatkan prasangkanya
"Mungkin benar begitu, sesuai dugaan saya"
Dan akhirnya jatuh ke dalam pemikiran yang sederhana
Mengambil langkah gegabah dan tidak mau membuka telinga
Diliputi prasangka buruk dan terkaan yang belum tentu kebenarannya
"Yasudah, begini saja"
.
.
.
.
.
Bagai pungguk merindukan bulan sepertinya

ECOBRICK - solusi sederhana mengatasi sampah kantong plastik

Pada tanggal 20 Januari 2018 kemarin, Luluk bersama beberapa teman lainnya mengikuti acara workshop pengolahan sampah yang merupakan salah satu rangkaian acara dari pameran makanan vegan di Grand City Surabaya. Acara ini dihadiri oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan, juga komunitas nol sampah sebagai narasumber. Nah, penasaran bukan mengenai apa yang kami dapat dari workshop keren ini? Berikut liputannya




Ecobrick merupakan sebuah modul dari botol plastik yang berisi kantong plastik padat didalamnya. Ecobrick adalah salah satu solusi mengatasi sampah kantong plastik yang menumpuk di rumah. Kita sendiri dapat melakukannya dengan mudah sebab yang dibutuhkan untuk membuatnya hanya bahan-bahan berikut ini.

Botol Plastik
Gunting
Lem
Tusuk Bambu
Sampah Halus (kantong plastik)
Sampah Kasar (Sisa bungkus makanan ringan)

Nah setelah semua bahan telah siap, mari kita mulai langkah pertama dengan menggunting sampah halus sekecil mungkin. Sebab lapisan pertama yang dimasukkan ke dalam botol adalah sampah halus yang nantinya dapat membuat lapisan terbawah menjadi padat. Nah disarankan agar ketika modul ecobrick disatukan dapat terlihat bagus, maka sebaiknya lapisan ini terdiri dari sampah halus yang berwarna sama. Setelah menggunting, masukkan potongan sampah tersebut dengan mendorongnya hingga lapisan terbawah menjadi padat. Tentu saja dengan bantuan tusuk bambu



Setelah lapisan terbawah benar-benar padat, mari kita membuat lapisan berikutnya. Nah kali ini kalian dapat menggunakan sampah kasar. Yaitu sampah-sampah dari bungkus makanan ringan. Sama seperti sebelumnya, sampah plastik ini harus dipotong menjadi bagian kecil-kecil agar dapat masuk ke dalam botol dan memenuhi ruang botol dengan padat. Masukkan potongan tersebut, dorong dengan tusuk bambu hingga lapisan menjadi padat.



Kemudian ulangi langkah sebelumnya. Jadi sebenarnya modul ecobrick ini terdiri atas lapisan sampah halus-kasar-halus-kasar-dan seterusnya. Mudah bukan?



Ketika botol telah penuh sesak dan padat, kini botol siap untuk ditutup. Nah kira-kira tiap modul ecobrick memiliki berat antara 300-500 gram. Dimana jika kita memasukkan sampah bungkus mie instant, dapat menampung 300 bungkus didalamnya hingga botol penuh dan padat.
Nah karena ini adalah sebuah modul, tentu dibutuhkan 'teman-teman' lainnya agar dapat difungsikan menjadi suatu barang jadi. Botol-botol ecobrick ini disatukan dengan menggunakan lem yang kuat. Nah setelah itu dapat digunakan dan dikembangkan menjadi barang dengan fungsi yang macam-macam. Dapat menjadi meja, kursi, bahkan panggung.

sumber :
http://publikjurnalistik.org/wp-content/uploads/2017/04/picsart_04-05-05.46.24.jpg

sumber:
https://pbs.twimg.com/media/C7UznHaVsAAaITy.jpg

Keren, bukan? Solusi praktis, mudah dan sederhana yang dapat kita lakukan di rumah.
Nah, mari kita coba solusi ini di rumah sebagai bentuk partisipasi kita untuk turut menjaga bumi dengan melakukan aksi ini sebagai salah satu wujud dari 3R!
Salam lestari!