menjauh

ada kalanya ketika benar-benar kecewa dengan seseorang, kita membutuhkan waktu sementara untuk menjauhinya.
bahkan di beberapa kasus, saking kecewanya hati ini, sampai melihat mukanya saja enggan apalagi berinteraksi dengan orang tersebut.
berhenti berkomunikasi untuk sementara menurutku adalah hal terbaik yang dilakukan
mencoba untuk memaafkan kesalahannya, sementara waktu akan berusaha mengobati sakit hati ini
sambil berdoa semoga Allah senantiasa melapangkan hati kita agar bisa berdamai kembali tanpa mengingat kesalahan (fatal) orang tersebut dan berusaha tetap bersikap baik kepadanya.

ada nasihat yang sangat mengena di hati
"Jika ada yang buat hati kita menjadi negatif dan kita tidak dapat berbuat apa-apa, maka lebih baik kita pergi untuk kebaikan diri sendiri"

cheers!

being twenty

Di tahun 2017 ini, usiaku menginjak angka 2. Alhamdulillah, umur yang seharusnya sangat disyukuri karena telah diberikan panjang umur. Menjadi seorang individu dengan usia kepala 2 bukanlah hal yang cukup mudah. Sebab beban dan tanggung jawab yang ada di depan mata juga lebih berat. Banyak tugas yang harus diselesaikan, tuntutan ini itu dan hal lainnya yang menuntun untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Luluk yang kata orang identik dengan childishnya, baik suaranya yang cempreng maupun pemikirannya, sepertinya harus benar-benar merubah diri. Yang dulunya suka main kesana kemari, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting, kini harus lebih serius menata diri untuk masa depan. Belajar mengolah suara, sepertinya hal yang penting juga untukku. (Terima kasih yang kemarin mendoakan “semoga suaranya semakin ngebass” wkwk) Dan belajar untuk lebih mengenal dan memahami orang lain, agar tidak terlalu polos dan mudah dibodohi atau dimanfaatkan (waduh)

Di usia 20 ini pun juga menurutku pacaran untuk sekedar main-main juga hal yang kurang bermanfaat, and also wasting time. Usia 20 baiknya mulai menyibukkan diri untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin. Lebih produktif, menambah jaringan teman, mengumpulkan banyak pengalaman dan prestasi, yang intinya mulai mencicil tahap meniti karir.

Ada yang bilang, “Age is just a number”. Benar, umur itu memang cuma angka. Hal terpenting adalah bagaimana kematangan dan kedewasaan kita menyiapkan diri untuk masa depan yang sebentar lagi datang. Ada yang bilang juga, usia ini bukan lagi saatnya “mencari jati diri” seperti masa remaja, tapi mulai menemukan dan menapaki jati diri itu. Entahlah, mungkin aku yang belum sadar bahwa jati diriku sudah mulai tertanam ataukah memang aku masih mencarinya. Yang terpenting saat ini adalah, be a good person to help each other. Entah jika usaha itu akan dihargai ataupun malah dicaci “baik karena blablabla”, just keep doing a good thing for them. Be kind! 😊


Mungkin di usia sebelumnya banyak hal yang mengecewakan untukku, terutama masalah sensitif yang menyangkut hati dan perasaan. Ah, sudahlah anggap aja itu cinta monyet. Wkwk. Setidaknya, aku banyak mendapat pelajaran berharga dari pengalaman-pengalaman pahit itu dan menjadi bekal hidup kedepannya. Aku mungkin kehilangan seseorang yang berharga, tapi Allah menukarnya dengan banyak teman baru yang selalu mendukung dan membantu luluk untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Aku meyakini kalimat yang akhir-akhir ini menjadi trending quote, “pasangan yang diberikan Allah nantinya akan mencerminkan dirimu. Jika kamu baik, maka pasanganmu juga akan baik. Sebaliknya jika kamu buruk, maka pasanganmu juga akan buruk”. Jadi, tidak perlu khawatir dan tergesa-gesa mencari ‘seseorang’ itu. Lagipula, masih seumur jagung juga kan. Tetap memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik 😊



Terima kasih banyak yang kemarin sudah memberikan ucapan, doa bahkan kado. Luluk sangat terharu :') mungkin aku ngga bisa bales semua kebaikan kalian, tapi Allah yang akan membalasnya. Semoga kalian ngga pernah kapok berteman dengan luluk ya! 😊


Ps:
Dari seseorang yang paling luluk sayangi
salah satu kado yang sangat memberikan pencerahan buat luluk :) 


"sebenarnya aku sudah tahu
sejak kita masih bersama
kau sudah dengannya"

❤❤❤


Terhitung 4 bulan sudah luluk bergabung dengan teman-teman baru disini. Yang awal mulanya luluk enggan daftar karna lokasinya yang jauh, namun pada akhirnya luluk berani mendaftar (thanks to mas akbar yang sudah menginspirasi wkwk). Dengan ketidak yakinan dan hopeless ketika daftar, ternyata luluk diberi kesempatan untuk bisa bergabung dengan tim UN ini. Yup, kita adalah volunteer batch 4,5. 4 cowo dan 2 cewe, yang luluk kira mereka sudah angkatan atas, eh ternyata luluk yang paling tua diantara mereka. Disini luluk banyak sekali mendapat pengalaman baru, dari mulai kejadian tak terduga yang membuat menangis sampai bahagia. Alhamdulillah, teman-teman disini sangat baik dan sudah luluk anggap seperti keluarga sendiri. Alhamdulillah lagi, luluk bertemu dengan partner yang sangat bisa diandalkan, amanah, sejalan dengan apa yang luluk pikirkan dan menyenangkan. Lebih bersyukur lagi, Luluk juga ditakdirkan bertemu dengan adek-adek tersayang ini.

Sebenarnya luluk tidak begitu yakin dengan kemampuan diri sendiri, apa iya luluk bisa sabar dengan mereka? Apa mereka bisa nyaman belajar dengan luluk? Apa luluk ngga malah jahat ke mereka? Tapi sepertinya karna fuad bisa mengcover itu dengan baik, alhamdulillah adek-adeknya masih mau belajar dengan kami dari minggu ke minggu

Disini bukan mereka yang banyak belajar, tapi mereka lah yang justru memberi pelajaran pada kami. Secara pribadi, luluk belajar bagaimana cara mengontrol emosi dan lebih sabar, lebih kalem, tidak capat marah-marah. Disini juga luluk belajar bagaimana kesederhanaan dapat memberikan sebuah kebahigaan. Arti penting dari sebuah pertemanan pun mereka ajarkan. Luluk akui bahwa sebenarnya mereka adalah anak-anak cerdas dengan akhlak yang baik, sayangnya mereka (sepertinya) belum benar-benar paham dengan banyak konsep dasar beberapa mata pelajaran, sehingga mereka sedikit kesusahan saat belajar. Tapi yang terpenting adalah, mereka masih memiliki semangat untuk belajar. Walaupun beberapa dari mereka masih tidak tahu bercita-cita menjadi apa, at least mereka masih memiliki keinginan untuk menjadi pintar.

Setelah menghabiskan waktu 4 bulan untuk persiapan UN, akhirnya kami mengajak mereka untuk refreshing setelah UN. Sebenarnya ini adalah ide fuad, mengajak mereka ke GeekFest setelah menghadiri undangan Sex Education di Poltek Ubaya. JJP (Jalan-Jalan Pintar) adalah salah satu kegiatan yang kami susun untuk proker 6 bulan kedepan.

Dan wah, ternyata mereka sangat excited dengan JJP perdana. Bahkan ketika naik uber, melewati jalanan kota Surabaya, mereka sangat antusias dan senang. Padahal jalanan kota, yang menurut kami biasa saja, membosankan karena setiap hari kami lewati, justru adalah hal yang jarang sekali mereka lihat, bahkan bisa jadi mereka belum pernah memiliki pengalaman keliling Surabaya sebelumnya. Ketika di Siola pun, pameran teknologi dengan benda-benda yang menurut kami berdua adalah hal yang biasa, (robot, remote, dsb) ternyata bagi mereka adalah benda-benda yang menakjubkan, belum pernah mereka jumpai secara langsung. Mereka sangat antusias, semangat dan tetap senang walaupun lelah setelah seharian penuh berjalan-jalan.

Di hari itu mereka mengajarkan pada luluk dan fuad bahwa seharusnya kami banyak bersyukur dengan apa yang kami punya. Mereka tidak seberuntung kami, yang dengan mudahnya bisa jalan-jalan ke pusat kota, jajan ini itu, belanja sesuka hati, dll. Bahkan dengan keterbatasan mereka untuk mencari ilmu, mereka tetap semangat untuk sekolah, mengejar pelajaran apa yang tertinggal, rajin belajar dan sungguh-sungguh berusaha menjadi pintar. Jujur, luluk sangat malu ketika melihat bahwa apa yang luluk lakukan di kampus selama hampir 2 tahun ini adalah hal yang tidak sepantasnya luluk lakukan. Belajar malas-malesan, tidak pernah mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh, bahkan tidak punya motivasi mengapa kuliah di jurusan ini. 

Bagi luluk, apa yang mereka telah ajarkan jauh lebih tinggi nilainya daripada luluk yang hanya bisa membagi ilmu matematika selama 3 bulan ini. Mereka adalah anak-anak baik dan cerdas. Mereka sudah luluk anggap sebagai adik kandung luluk. Pengalaman yang luluk belum pernah rasakan juga, memiliki adik. Belajar berbagi dengan mereka, belajar menahan emosi, belajar memahami mereka. Apapun yang telah mereka berikan, luluk sangat berterima kasih dan bersyukur dipertemukan dengan mereka. Pengalaman hidup dan pelajaran yang tiada bandingannya, untuk lebih mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan sampai detik ini. Pelajaran paling berharga, bahagia yang sesungguhnya adalah melihat orang lain bahagia. "Liat mereka seneng aja udah bikin kita bahagia".


And also, terimakasih banyak Fuad karena selalu membantu luluk, mengcover segala kekurangan luluk dan menjadi partner terbaik. Dan teman-teman lainnya, iben-mba wikan-mba iping-mas iqdam-alvin-nanda-delila-dan lainnya, yang selalu mendukung luluk, menyemangati terutama setelah kejadian “itu”, dan selalu ada disaat luluk membutuhkan 😊